Diskusi Kurikulum Pendidikan Dokter yang Berorientasi pada Daerah Terpencil

Jalannya diskusi:
Pembukaan:


Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Saat ini banyak sekali Puskesmas yang tidak punya dokter. 1600 Puskesmas kosong, terutama di daerah sulit. Ada banyak analisis mengenai penyebab hal ini, misalnya : Daerah terpencil dan sulit tidak menarik; Dokter tidak merasa percaya diri bekerja di daerah sulit karena kemampuan medik dan sosialnya kurang; Penghargaan kurang. Isu dalam diskusi ini adalah apakah bisa merubah kurikulum yang ada saat ini agar dapat membantu penempatan dokter di daerah sulit? Silahkan Ibu Ova memberikan pemaparannya.

dr. Ova Emilia, SpOG, M.Med.Sc., Ph.D
Kita akan menyambung dari Prof. Laksono dimana kita sebagai produsen dengan gambaran secara umum FK di Indonesia. Saya menfokuskan pelayanan di daerah rural atau pedesaan. Kita tahu bahwa jumlah dokter di daerah terpencil itu sangat sedikit dan fasilitas sangat memprihatinkan. Padahal kita tahu hak warga Negara sama dalam hal kesehatan. Dan ini merupakan kewajiban Negara untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan masyarakat. Sekarang ini ada pergeseran, 13 % orang yang ingin menjadi dokter umum dan ada 50 % yang ingin menjadi spesialis, sebagian lain bekerja di manajemen dan dosen atau peneliti. Yang menarik lagi adalah, ternyata ada predictor dimana dokter mau bekerja di rural area. Jika dokter berasal dari area terpencil, maka kemungkinan ia akan mau kembali ke daerah asalnya.
Selain itu, jika ada dokter yang pernah bekerja di daerah rural, dia akan 2,5 x mau bekerja di area itu. Begitupun dengan yang punya keluarga suami atau istri di daerah tersebut, atau yang memiliki hubungan dekat dengan orang-orang di daerah tersebut memiliki predictor 4 x lebih besar. Sedangkan yang pernah postgraduate di rural area akan memiliki kemauan untuk bekerja sebanyak 2,5 x.
Strategy yang bisa diterapkan secara nasional untuk memacu lulusan dokter mau kerja di daerah rural:
  1. Meningkatkan jumlah mahasiswa kedokteran daerah rural
  2. Memberikan Paparan praktek di daerah rural dalam kurikulum
  3. Mengadakan Program pelatihan khusus yang terpadu dan terintegrasi
  4. Mengembangkan Program CPD untuk dokter di daerah rural
  5. Adanya Status akademik, professional dan financial khusus
  6. FK bertanggung jawab terhadap regional tertentu untuk pelayanan kesehatan (regionalisasi)
  7. Mendorong pelayanan kesehatan berbasis komunitas
  8. Fasilitas untuk “keluarga” dokter yang bertugas di rural
  9. Menurunkan gap remunerasi antara dokter umum dan spesialis

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Jelas sekali bahwa kurikulum merupakan salah satu factor yang dapat mendorong dokter mau bekerja di rural. Oleh karena itu fokus diskusi memang ada di kurikulum. Silahkan Dr. Susilowati dan Dr. Rossi Sanusi menanggapinya.

Dr.dr. Susilowati. MKes -UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana)
FK UKDW sudah mempunyai orientasi untuk dokter di daerah terpencil seperti 40 % penerimaan mahasiswa berasal dari luar jawa yang benar-benar dari luar jawa dan setelah lulus diharapkan dapat kembali ke daerahnya. Selain itu kurikulum FK UKDW memberikan perhatian pada kebutuhan khusus dokter daerah terpencil yang tertuang dalam grand desain kurikulum, dimana kurikulum kami memberikan banyak choice : pelayanan kesehatan sedang (RS tipe C), dan besar (RS tipe A, B) dan dokter bisa memilih sesuai kondisi.

Kurikulum FK UKDW pun mengandung aplikasi sistem informasi untuk daerah terpencil seperti data manual yang dapat dikirim ke fasilitas kesehatan dengan bantuan technology yang ada. Dan kita memberikan system informasi yang masih advance.
Konsep social partnership yang dirancang FK UKDW, mengharapkan hasil dimana mahasiswa dilatih memberdayakan masyarakan dan bekerja sama dengan komponen masyarakat seperti community leader. Kami juga memberikan konsep pelayanan kesehatan masyarakat pluralistic:

  • Indonesia Consortium for Religious studies – UKDW-UIN-UGM
  • S2 theology –perdamaian dan rekonsiliasi konflik yang terkait dengan disaster management dan emergency response
  • Misi dokter sebagai community service dan professional yang seimbang.

Kurikulum FK UKDW mengadopsi kurikulum dari UNSRAT. Yang tidak ada dalam kurikulum ini adalah lab skills untuk menyiapkan mahasiswa agar terampil dalam pelayanan klinis. FK UKDW ini memiliki lab skills yang sangat lengkap.

dr. Rossi Sanusi, MPA., Ph.D
Saya ingin memfollow up mengenai apa yang disampaikan Prof. Laksono mengenai ketidakpercayaan diri kita dalam pekerjaan kita. Hal ini mungkin bisa terjadi karena tidak ada ketidakpuasan kita pada kerja, seperti apresiasi gaji dan yang lainnya. Oleh karena itu, bagaimana kita bisa menggarap kurikulum yang bisa mencetak dokter yang pede pada pekerjaan.
Caranya adalah blanket assessment yaitu dengan menyeimbangkan kemampuan dokter. Kalau seorang mahasiswa belum dapat menguasai suatu kompetensi, maka ia belum lulus. Sehingga di berikan pengajaran yang sesuai dengan kemampuannya dia. Sehingga secara kompetensi minimum dia sama dengan yang lain, namun kompetensi maksimumnya akan digali sampai ia benar-benar bisa.
Secara administrasi akademik, system ini memang agak repot, namun mahasiswa dapat merencanakan sendiri kemampuan belajarnya.Sehingga setelah lulus, dokter akan pede dengan sendirinya.

Selain itu kurikulum dapat dirancang dengan menganalisa problem-problem dari pasien dengan gejala yang dibawa ketika datang ke tempat praktek (Lihat paper saya). Selain itu , bisa juga dengan menganalisa dari penyakit yang sudah di ketahui oleh pasien itu sendiri. Dalam SKD, ada derajat penguasaan yang harus di miliki oleh dokter. Untuk penanganan di daerah terpencil minimum ada derajat 3 atau 4 untuk menguasai kompetensi. Namun, sekarang banyak daerah terpencil yang masih memiliki dokter dengan derajat yang rendah. Oleh karena itu, kami berharap ini dapat ditingkatkan.Banyak hal yang bisa dilakukan antara lain dengan stimulasi dan tutor sebelum menangani pasien langsung.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Di PMPK (Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan) FK UGM, ada kerjasama untuk penanganan emergency KIA rumah sakit di NTT. Di NTT kurang ada tenaga spesialis sehingga dibutuhkan banyak tenaga dokter yang mampu bekerja sperti spesialis, termasuk melakukan Sectio Caesaria. Kemampuan klinik seperti yang dikatakan pak Rossi sangat penting sehingga rotasi klinik ini harus di perhatikan dengan benar.

dr Hartono-AIPKI:
Saya menambahkan. Selain itu, ada problem lain yaitu, management conflict seperti permasalahan-permasalahan sosial. Seperti anggapan bahwa kita dianggap manusia setengah dewa, contohnya pertengkaran keluarga, perkelahian dan lain-lain yang terjadi di masyarakat daerah. Kebanyakan dari mereka ketika sedang ada masalah malah datang ke dokter, bukan ke camat, lurah atau yang berwenang setempat. Hal ini mewarnai kehidupan para dokter disana. Beberapa ada dokter yang menjadi tidak pede dengan hal tersebut, sehingga ada yang lari dari tanggung jawab itu. Sedangkan yang bertahan, merasa tidak dipersiapkan menghadapi hal itu. Banyak konflik dengan staf di puskesmas, masyarakat dengan puskesmas dan masyarakat-masyarakat yang lari ke kita.Mungkin hal ini belum disinggung dalam kurikulum.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Apa yang disampaikan pak Handoyo merupakan kurikulum dengan muatan interaksi sosial yang kuat. Di UGM sendiri sebenarnya ada kurikulum yang membahas hal tersebut yang disebut social communication, namun masih sedikit pembahasannya.

Djohan,MEM,PhD -UKDW:
Di UKDW kita bisa sharing dengan S2 Theology yang dapat membantu mengenai perdamaian dan management conflict. Salah satu praktek yang kami persiapkan adalah dapat mengunjungi desa wisata pada akhir pekan (peluang untuk bisnis) dan kami berharap mahasiswa dengan kunjungan itu dapat memberikan stigma prospective dalam pelayanan di desa itu pula.
Teaching hospital di UKDW sendiri sampai sekarang masih menggunakan Bethesda yang masih kerjasama dengan kami selama ini. Dengan adanya meeting siang ini, kami sangat menyambut senang karena bisa membantu kami untuk sharing information.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Salah satu isu penting: bagaimana bisa kita mengadakan dokter yang mau kerja di daerah terpencil jika koas (rotasi klinik) para dokter ini di kota-kota besar? Oleh karena itu saya berharap ada FK yang berani membangun/membina sebuah rs pendidikan di daerah sulit/terpencil.

Teleconference dengan Heru Tjahjono, Dekan FK Universitas Nusa Cendana:
FK Universitas Nusa Cendana ini baru ada 3 tahun ini dan kurikulum kami mengadopsi di UNHAS. Apa yang telah kami baca dalam lembaga ini sangat bagus. Pembahasan mengenai perubahan kurikulum, saya sangat setuju (peningkatan kompetensi hingga tingkat 4 ). Hanya saja, saya melihat, saat ini banyak kompetensi yang masih berorientasi pada daerah Jawa,, sehingga sangat bagus jika diorientasikan di daerah terpencil secara khusus. Oleh karena itu, perubahan kurikulum yang berbasis daerah terpencil sangat membantu, terutama di daerah kami.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Ada harapan dari daerah-daerah yang sulit untuk mepunyai dokter yang berkompetensi mengembangkan pelayanan di daerah tersebut. Saat ini Program Sister Hospitasl di NTT baru mengirimkan residen saja. Namun diharapkan tahun depan akan mengirimkan ko as. Hal ini sudah direncakana beberapa FK yang bergabung dengan Sister Hospital di NTT.

Dr Lisa - UKDW:
Dokter di daerah terpencil diharapkan memiliki kompentesi yang lebih tinggi dibanding dokter di kota. Namun, apakah diperlukan dari organisasi yang tersertifikasi untuk menjamin dokter2 umum yang bisa memiliki kompetensi yang lebih seperti yang dapat melakukan SC, anastesi dll.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Nah, ini sangat menarik dan berhubungan dengan diskusi selanjutnya dalam website yang kami garap ini, yaitu Task Shifting. Task shifting ini membahas mengenai bagaimana pembagian pekerjaan dari dokter spesialis ke dokter umum. Saat ini sedang dibahas di Kementrian Kesehatan konsep Task shifting yang nantinya akan disiapkan dinas setempat, namun hanya akan dapat di gunakan di tempat yang kekurangan dokter spesialis atau doter. Tidak semua daerah di Indonesia dapat menerapkan task shifting.

Prof. Dr. dr. Soenarto Sastrowijoto, SpTHT(K):
Saya setuju sekali karena ini merupakan suatu masalah realitas yang harus kita perjuangkan. Namun, saya mempunyai pandangan sedikit berbeda yaitu upaya-upaya yang telah dilakukan UKDW untuk mengambil mahasiswa dari daerah, (dan diharapkan kembali kedaerah tersebut) padahal kurikulum yang ditawarkan oleh UKDW sendiri memberikan choices itu. Apakah ini tidak menjadi kontradiktif? Masih belum merubah kurikulum secara total agar lebih cocok dengan daerah terpencil. Menurut saya, jangan hanya mengotak-atik kurikulum yang sudah ada, melainkan merubah total kurikulum.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Tentu saja saat ini merupakan pembahasan mengenai peningkatan yang ekstrim, yaitu dengan kurikulum yang dirubah total. Yang menjadi masalah adalah, apakah kita berani untuk mengadakan perubahan itu (merombak kurikulum) secara total. Tidak hanya masalah muatan lokal.

Dalam konteks perubahan total kurikulum kita perlu melihat pemetaan:
Di Indonesia, ada bebarapa daerah dengan pedalaman yang ekstrim dan jumlah keseluruhannya ada sekitar 150 puskesmas. Di sana tidak ada Fakultas Kedokteran, Memang menjadi dokter di tempat-tempat seperti itu bukan untuk mengejar karir namun murni untuk pelayanan. Nah, di daerah terpencil itu ada beberapa FK-FK yang dapat diisi oleh dokter yang hanya 1 atau 2 tahun tinggal disana dengan sistem kontrak. Dokter ini sebaiknya dikirim dalam bentuk kelompok bersama perawat dan tenaga kesehatan lainnya (multi-profesi) dan dilatih khusus.

Kemudian ada daerah yang sulit namun sekarang didirikan FK. Daerah ini yang sebenarnya mengharapkan ada kurikulum khusus FK untuk daerah terpencil. Sebaiknya kita perlu membuat kurikulum di daerah terpencil seperti yang dipaparkan Pak Rossi, sehingga mahasiswa di FK Daerah ini bisa langsung memahami kondisi daerah dan penanganannya. Daerah ini seperti di NTT, Papua, Sulawesi Tengah, Tenggara, Kalimantan, Bengkulu, Jambi yang ada Fknya memerlukan kurikulum yang untuk daerah terpencil. Di sini tempat untuk perombakan total.

dr. Ova Emilia, SpOG, M.Med.Sc., Ph.D
Melihat diskusi ini, kita sadari bahwa kita perlu pembahasan lebih lanjut agar tidak ada kegamangan dalam perombakan total kurikulum tersebut. Misalkan, berapa persen dokter dengan kompetensi seperti apa yang dibutuhkan untuk suatu daerah. Sehingga dokter bisa tahu akan kemana setelah 2 atau 3 tahun rolling. Selain itu, kementrian kesehatan bisa memantau tiap daerah-daerah dan pembagian dokter-dokter tersebut.

Prof. Dr. dr. Soenarto Sastrowijoto, Sp THT(K):
Ada tantangan lain.Kalau menurut saya, sebaiknya pemikiran ini jangan hanya terbatas dalam kurikulum yang berorientasi daerah terpencil saja, melainkan isu secara nasional, karena kita semua tahu bahwa clinical teknis akan dibutuhkan secara nasional. Oleh karena itu, sebaiknya jangan hanya dibatasi hanya dalam konteks kurikulum daerah terpencil ini. Masih ada tantang lain yaitu menghasilkan tenaga dengan mutu internasional.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Front yang dihadapi FK memang bervariasi: Di ujung kiri ada front FK internasional dengan teknologi tinggi, sementara di ujung kanan adalah daerah terpencil. Pertanyaannya adalah: Dari 70an FK di Indonesia, berapa yang akan fokus pada kurikulum dengan lulusan yang akan bekerja di level internasional, berapa FK yang lulusannya akan bekerja di daerah terpencil. Memang di diskusi ini yang menjadi konsentrasi adalah kurikulum daerah terpencil ini.
Hal ini akan menjadi dilemma bagi UGM dan FK lainnya jika kurikulumnya “nanggung”. Lulusannya dapat tidak laku di daerah terpencil karena kompetensi yang kurang dalam penanganan di daerah terpencil. Ada kemungkinan FK-FK seperti FK Nusa Cendana merubah total kurikulum sehingga lulusannya lebih mampu bekerja di daerah sulit dibanding lulusan FK UGM. Llusan FK UGM berarti kalah bersaing untuk bekerja di daerah sulit. Keadaan “nanggung” terjadi kalau FK UGM gagal pula menghasilkan lulusan yang mampu ber kompetisi di teknologi tinggi dalam persaingan internasional. Ini tantangan untuk FK UGM dan FK-FK lain yang serupa.

dr. Mansyur Romi SU.,PA (K)
Dalam rencana pendidikan kedokteran yang akan datang, ini membutuhkan dokter-dokter dengan kompetensi yang berbeda-beda. Ini bisa dibuat konsep regionalisasi seperti yang disampaikan oleh Bu Ova tadi. Namun kalau hanya begini saja, akan menimbulkan problem lainnya karena dokter tidak bisa bersaing dalam uji kompetensi dokter (UKDI) pada umumnya (karena hanya akan bagus dalam salah satu kompetensi saja).

dr. Ova Emilia, SpOG, M.Med.Sc., Ph.D
Memang dalam standarisari kompetensi dokter, ada standard UKDI dalam memberikan penilaian kedokteran. Setelah UKDI, baru ada internship yang akan memberikan warna dan variasi. Internship ini bisa berupa additional training yang didapat oleh dokter-dokter tersebut. Namun, additional training ini tidak bisa dilakukan sebelum seorang dokter mendapatkan penilaian berdasarkan UKDI. Dan additional training ini biasanya ada yang menggaransi, sehingga dapat meningkatkan kompetensi dokter itu dengan sendirinya. Untuk mendapatkan additional training ini ada step-step yang masih panjang.

Prof. dr. Soenarto Sastrowijoto, Sp THT (K):
Kalau pendidikan dokter maupun spesialis ada standar nasional, itu merupakan keharusan, namun bagaimana standar itu bisa seimbang dengan kebutuhan yang ada. Contohnya pemberian standard UKDI jangan terlalu tinggi, misalnya hanya 60 % saja dan 40 % nya bisa digunakan sebagai variasi dimana yang akan menguji dan memberikan penilaian tergantung dari regionnya. Namun, jika kompetensi region itu berbeda, maka standar kompetensi yang diberikan tiap-tiap regionnya akan berbeda satu sama lain. Andaikata ini bisa di lakukan jangan terlalu lama, (karena globalisasi semakin cepat), maka dalam 2 tahun ini bisa mendapatkan hasilnya.
Namun, ada hal yang menarik bahwa, banyak pelaku penting UKDI adalah teman-teman dari Jakarta (organisasi pusat). Oleh karena itu maka tentu kita bisa tebak hasilnya hanyalah dari pandangan orang pusat saja. Oleh karena itu diperlukan lembaga yang bisa menengahi ini. Nah, dari hal tersebut, muncul suatu pertanyaan: Apakah diskusi ini mampu mengembangkan konsep yang seharusnya dikembangkan oleh institusi besar seperti KKI dan AIPKI ini

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D
Karena waktu yang mendesak sebagai penutup saya akan menjawab pernyataan Prof Soenarto. Apa yang dibahas dan didiskusikan hari ini akan dikembangkan melalui berbagai jalur:
Jalur 1. Diskusi akan diteruskan melalui website untukmemperluas jaringan dan menambah masukan.
Jalur 2: Hasil diskusi ini akan dilaporkan ke KKI dan AIPKI untuk dapat kita ajukan bagaimana perkembangannya.
Jalur 3: Akan dikirimkan ke Dekan-Dekan FK-FK yang mungkin membutuhkan perombakan total dalam kurikulum agar lulusannya dapat lebih baik bekerja di daerah sulit.

Terimakasih atas partisipasi dan kehadirannya.
Diskusi ditutup pada pukul 15.30 WIB.

Referensi :

  • Kurikulum Pendidikan Dokter untuk FK daerah terpencil
  • Fakultas Kedokteran dan Pelayanan Kesehatan
  • UKDW FK daerah terpencil

;

 

Add comment


Security code
Refresh

Alert System

Jika ingin memperoleh informasi baru dari website ini, silahkan mendaftar melalui tombol alert system di bawah.

alertsys

Unit Pengiriman Residen

BL-unit-pengiriman

 

Policy Brief

policybrief20314

PPE Dekan FK

PPE-FK

pengantar-umum

terlaksana

minggu-ini

keg-akan

Kelompok Kerja 1

 1-bl-dokter

2-jkn

Kelompok Kerja 2

2-jkn

DLP

Kelompok Kerja 3

 2-jkn