Perbedaan Budaya Mempengaruhi Pembelajaran Clinical Reasoning Mahasiswa Kedokteran

Category: Pengantar Mingguan Hits: 86

Clinical reasoning (CR) merupakan keterampilan yang penting dan kompleks bagi mahasiswa kedokteran. Keterampilan ini mengarahkan mahasiswa hingga tahap mendiagnosis dan memberikan rencana terapi. Mayoritas fakultas kedokteran di wilayah Asia Pasifik telah mengadopsi kurikulum kedokteran berdasarkan pedagogi barat, sehingga budaya barat sangat berpengaruh dalam mengajarkan keterampilan ini. Namun demikian, sampai saat ini ekspolorasi/penelitian yang terkait pengaruh budaya pada proses mengajar dan belajar di kedokteran masih sangat minimal.

Pada 16 September 2019 dilaksanakan diskusi bersama dengan pendampingan dosen (Critical Appraisal) oleh mahasiswa Program Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan FK - KMK UGM Angkatan 2018 dan 2019 yang bertempat di Ruang Kuliah Gd. Radioputro Lt. 6 FK - KMK UGM untuk membahas artikel pada jurnal BMC Medical Education yang berjudul “How Clinical Reasoning is Taught and Learned: Cultural Perspectives from the University of Melbourne and Universitas Indonesia.” Tulisan tersebut melakukan eksplorasi terhadap isu yang berkaitan dengan clinical reasoning.

Penelitian yang dilakukan bertujuan mencari perbedaan dalam nilai budaya yang mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran keterampilan CR. Metode yang digunakan adalah studi kasus komparatif yang menggunakan data kuantitatif dan kualitatif di University of Melbourne dan Universitas Indonesia. Peneliti menggunakan kuesioner Diagnostic Thinking Inventory (DTI) yang diberikan pada mahasiswa kedokteran semester 6 (akhir tahun praklinis) dan semester 12 (akhir tahun klinis), sedangkan Critical Appraisal (CA) dari jurnal ini menggunakan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) version 2018 dengan 2 pertanyaan screening, 5 pertanyaan untuk kualitatif, 5 pertanyaan kuantitatif dan 5 pertanyaan untuk mixed method.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengingat kecenderungan adopsi metode barat di seluruh dunia, termasuk di negara - negara dengan budaya belajar yang berbeda, studi ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan budaya pembelajaran lokal ketika mengadopsi pendekatan barat. Sebagai negara non barat, kita masih dapat mengeksplorasi isu terkait pendidikan kedokteran dan profesi kesehatan dengan pendekatan perbedaan budaya. Selain itu, diperlukan penelitian lebih rinci dalam mengukur flexibility in thinking dan tingkat struktur pengetahuan dalam memori sesuai dengan tingkatan masa belajar mahasiswa.

Selengkapnya >