Reportase Sesi 4 Harapan untuk Pimpinan KKI yang Baru dalam Mengurangi Ketidakadilan Pelayanan Medik Spesialistik di era JKN dan Kemungkinan Kekurangan Spesialis dalam Pandemi COVID-19

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK – KMK UGM menyelenggarakan Seri Diskusi Online dalam Forum Kebijakan Residen dan  Forum Kebijakan JKN dengan tema “Harapan Untuk Pimpinan KKI yang Baru dalam Mengurangi Ketidakadilan Pelayanan Medik Spesialistik Di Era JKN Dan Kemungkinan Kekurangan Spesialis dalam Pandemi COVID-19”. Pemateri pertama adalah Insan Rekso Adiwibowo yang membahas tentang kekurangan spesialis paru. Indonesia memiliki kesenjangan geografis yang tinggi dan kebijakannya banyak yang Jawa-sentris. Kesenjangan ketersediaan SDM kesehatan antar daerah berdampak besar dalam mewujudkan jaminan kesehatan semesta, terutama masyarakat rawan (vulnerable). Ketidakmerataan ini tidak hanya terjadi secara nasional tetapi juga di tingkat provinsi, misal di Sumatera Utara, ketimpangan antara Medan (98 dokter paru) dan Tapanuli Selatan (1 dokter paru), dan persebaran dokter spesialis sangat berkaitan dengan persebaran RS. Pandemi COVID-19 akan membawa kesenjangan itu pada level yang fatal, karena akan membuat situasi pandemi ini tidak terkendali dan mengakibatkan lebih banyak korban.

Reportase Zoom Meeting Sesi 1. Membahas Visi Pendidikan Dan Pelatihan Residen Dalam UU Pendidikan Kedokteran 2013

13 Agustus 2020 - Diskusi online sesi 1 bertema Visi Pendidikan dan Pelatihan Residen dalam UU Pendidikan Kedokteran 2013. Prof. Laksono memaparkan tentang realita residen pada saat ini. Pada masa pandemi COVID-19 ini, residen banyak diperbincangkan karena berada di tempat berisiko, ada yang sakit bahkan meninggal dunia, dan soal insentif  untuk mereka yang masih diperjuangkan. Realita ini masih belum sama dengan visi UU Pendidikan Kedokteran 2013. Selain itu, kita menghadapi ketidakmerataan dokter spesialis dan sub spesialis yang datanya bisa dilihat di dalam DaSK (https://pkmk-ugm.shinyapps.io/sdmkesehatan/). Kebijakan JKN tidak berdampak pada pengembangan spesialis dan sub spesialis. Belum ada data jumlah dan tempat asal dan tempat tujuan kerja residen, hal ini menyulitkan pengambilan kebijakan tentang pendidikan residen., apalagi fellow (sub spesialis).

Reportase Zoom Meeting Sesi 3 Kebijakan Pendidikan Residen: Riset Tentang Residen

Melanjutkan pertemuan sebelumnya, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK – KMK UGM menyelenggarakan Pertemuan Seri Diskusi Online Kebijakan Pendidikan Residen. Sesi ketiga ini bertema “Riset Tentang Residen”. Sesi ini membahas tentang hasil penelitian mahasiswa S2 dan S3 FK KMK UGM yang berkaitan dengan residen.

Paparan pertama oleh dr. Diaz yang menjelaskan tentang analisis pemberian insentif residen di 8 negara. Dari 8 negara tersebut, status residen sebagai mahasiswa hanya di Indonesia saja, sedangkan yang lain sebagai pekerja. Untuk rerata jam kerja, paling tinggi di Amerika Serikat yaitu 80 jam/minggu, sedangkan di Indonesia tidak ada data yang tersedia. Rerata besaran insentif terbesar ada di Jepang yaitu sebesar $113.938/tahun untuk residen non universitas, sedangkan di Indonesia pola insentifnya belum diatur regulasinya.

Reportase Diskusi Online Kebijakan Pendidikan Residen : Seri 1a. Menjawab Berbagai Hal Tentang UU Pendidikan Kedokteran

PKMK mengadakan seri diskusi online Kebijakan Pendidikan Residen “Mencari Kebijakan yang Tepat Untuk Pendidikan Residen Pasca UU Pendidikan Kedokteran 2013 di Era Pandemi COVID-19” pada 19 Agustus 2020 melalui Zoom Meeting dan live streaming. Diskusi sebelumnya tentang visi Pendidikan/pelatihan residen dalam UU Pendidikan Kedokteran tahun 2013, menyisakan beberapa pertanyaan yang akan dijawab dalam sesi kali ini oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, Ph.D.

Kiat Menjadi Agent Of Change yang Sukses di Bidang Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan

20191021 103353 resized

Pendidikan Profesi Kesehatan (Health Professions Education – HPE) saat ini terus berkembang maju dengan cepat (rapid change) dan dinamis mengikuti kebutuhan dan perkembangan teknologi. Demikian juga berbagai inovasi dalam pendidikan profesi kesehatan telah dan akan terus dilakukan untuk menciptakan program pendidikan yang efektif agar menghasilkan layanan kesehatan berkualitas tinggi di kemudian hari. Namun demikian, menjadi inisiator dan inovator perubahan dalam pendidikan kedokteran dan kesehatan bukanlah tugas dan tanggungjawab yang mudah. Berbagai tatangan seringkali muncul, baik dari mahasiswa, kolega pendidik, para senior, ataupun pemegang kebijakan di institusi pendidikan yang berbeda pandangan, pendapat, ataupun kritik terhadap ide - ide dan inovasi baru yang ada. Tidak jarang pula berbagai tantangan tersebut menimbulkan rasa putus asa pada diri inisiator perubahan itu sendiri, bahkan ada pula yang mengundurkan diri meninggalkan idealisme dan pemikiran inovatif dalam dunia pendidikan kedokteran dan kesehatan. Untuk itulah, sangat penting bagi kita untuk memahami kiat - kiat agar dapat tetap mengawal inovasi dan perbaikan dalam pendidikan dalam kondisi yang penuh tantangan tadi. Lalu, apa saja kiat - kiat itu?