Uji Kualitatif Penerapan Self Regulated Learning Pada Mahasiswa Kedokteran

Self Regulated Learning (SRL) dalam pembelajaran merupakan keterampilan yang penting untuk dikembangkan pada mahasiswa kedokteran. Konsep ini pertama kali dikenalkan pada teori Script Corcodance Test (SCT) dari Bandura, Zimmermann & Pons, Pintrich. Dengan Self - Regulated Learning, pelajar secara personal akan mengatur proses pembelajarannya sendiri, sehingga akan belajar lebih efektif. Berbagai penelitian empiris telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara keberhasilan akademik dengan penggunaan keterampilan SRL dan pemahaman dari praktek SRL. Metode pengajaran seperti Problem Based Learning (PBL) membantu untuk melakukan Self Regulated Learning. Namun masih banyak ditemukan bahwa penerapan SRL ini masih kurang efektif dilakukan oleh mahasiswa kedokteran.

dr. Titi Savitri Prihatiningsih, M.Med.Ed.,PhD: ”Mengabdi untuk Kemajuan Pendidikan Nasional melalui BSNP”

image 34Alhamdulillah, 31 Mei 2019 adalah hari terakhir saya bertugas di Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak 14 Agustus 2014. Ini berarti, mulai Juni 2019 saya kembali bertugas penuh waktu di Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM. Mungkin banyak yang belum mengenal BSNP. Keberadaan BSNP adalah amanah Undang - Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Melalui UU ini, pemerintah Indonesia telah mengadopsi Sistem Pendidikan Berbasis Standar (Standar-based Education System). Dengan sistem ini, pemerintah menyelenggarakan Sistem Pendidikan Nasional dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi.

Penggunaan Teknik Presentasi Kasus yang Berbeda dalam Proses Pembelajaran Residen- Snapps Dan One-Minute Perceptor (OMP), Mana Yang Lebih Cocok?

Berbagai macam teknik telah dikembangkan untuk mempermudah preceptor mengajarkan materi ke residen secara efektif, terutama pembelajaran secara aktif. Dua metode yang sering digunakan adalah SNAPPS dan OMP. SNAPPS mempromosikan presentasi kasus singkat dengan meminta peserta didik merangkum laporan aktual dan mengekspresikan ide - ide dan alasan klinis mereka, sedangkan OMP menyediakan intervensi singkat dan efektif untuk peserta didik selama pengajaran dalam setting rawat jalan. Selama ini belum ada laporan yang membandingkan secara eksperimental tentang kedua metode ini.

Pada kesempatan kegiatan belajar bersama dengan pendampingan dosen (Critical Appraisal) oleh mahasiswa Program Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan FK - KMK UGM (13 Mei 2019) di Ruang Kuliah Gd. Radioputro Lt. 6 FK - KMK UGM, dilakukan diskusi pada salah satu jurnal open source yang diterbitkan oleh BMC Medical Education berjudul “How do Case Presentation Teaching Methods Affect Learning Outcomes?- SNAPPS and the One-Minute Preceptor.” Penelitian yang dilakukan dalam jurnal tersebut bertujuan menilai perbedaan antara SNAPPS dan OMP dalam konten presentasi kasus dan evaluasi peserta didik.

Menjelajahi Faktor Level Individu dan Interpersonal

Penelitian ini menyelidiki bagaimana spiritualitas, koneksi teman sebaya, dan integrasi sosial berhubungan dengan ketahanan akademik, self efficacy akademik, integrasi akademik, dan komitmen institusional dari mahasiswa perempuan. Sampel dari 372 sarjana (usia 18-26) di Universitas Katolik menyelesaikan survei Mapworks yang berisi pertanyaan spesifik lembaga dan item spiritualitas pada Musim Semi 2018. Korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan bivariat antara variabel. Analisis korelasi kanonik (CCA) dilakukan untuk menentukan apakah ada hubungan di antara variabel - variabel prediktor (spiritualitas, koneksi rekan, integrasi sosial) dan variabel kriteria (ketahanan akademik, efikasi diri akademik, integrasi akademik, komitmen kelembagaan).

Perbandingan Perilaku Dokter dari Aspek Spiritual, Religi dan Kesehatan di 3 Negara

Tantangan besar bagi dokter ialah dapat menghubungkan aspek spiritual dan religi ke aspek kesehatan. Beberapa daerah dengan budaya yang berbeda memungkinkan memiliki isu spiritual dan religi yang berbeda pula. Tantangan ini sangat menarik jika dihubungkan dengan praktik klinik kedokteran. Penelitian ini ingin menunjukkan perbandingan perspektif dokter terhadap pengaruh spiritual dan religi pada pelayanan kesehatan yang dilakukan yang kemudian dibandingkan antar negara yang berbeda yaitu Brazil, India, dan Indonesia.

Kesimpulan yang menarik adalah dokter dari negara yang berbeda memiliki beragam perilaku dalam menghadapi isu kesehatan yang berhubungan dengan spiritual dan religi. Etnis dan budaya menjadi pengaruh penting pada pendekatan spiritual yang dilakukan di praktik klinis. Kurikulum mengenai spiritual dan religi yang mengajarkan dokter untuk dapat membawa aspek spiritual pada praktek klinis harus dapat memperhatikan perbedaan budaya dan etnis yang dimiliki oleh setiap daerah.