Penggunaan Teknik Presentasi Kasus yang Berbeda dalam Proses Pembelajaran Residen- Snapps Dan One-Minute Perceptor (OMP), Mana Yang Lebih Cocok?

Berbagai macam teknik telah dikembangkan untuk mempermudah preceptor mengajarkan materi ke residen secara efektif, terutama pembelajaran secara aktif. Dua metode yang sering digunakan adalah SNAPPS dan OMP. SNAPPS mempromosikan presentasi kasus singkat dengan meminta peserta didik merangkum laporan aktual dan mengekspresikan ide - ide dan alasan klinis mereka, sedangkan OMP menyediakan intervensi singkat dan efektif untuk peserta didik selama pengajaran dalam setting rawat jalan. Selama ini belum ada laporan yang membandingkan secara eksperimental tentang kedua metode ini.

Pada kesempatan kegiatan belajar bersama dengan pendampingan dosen (Critical Appraisal) oleh mahasiswa Program Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan FK - KMK UGM (13 Mei 2019) di Ruang Kuliah Gd. Radioputro Lt. 6 FK - KMK UGM, dilakukan diskusi pada salah satu jurnal open source yang diterbitkan oleh BMC Medical Education berjudul “How do Case Presentation Teaching Methods Affect Learning Outcomes?- SNAPPS and the One-Minute Preceptor.” Penelitian yang dilakukan dalam jurnal tersebut bertujuan menilai perbedaan antara SNAPPS dan OMP dalam konten presentasi kasus dan evaluasi peserta didik.

Menjelajahi Faktor Level Individu dan Interpersonal

Penelitian ini menyelidiki bagaimana spiritualitas, koneksi teman sebaya, dan integrasi sosial berhubungan dengan ketahanan akademik, self efficacy akademik, integrasi akademik, dan komitmen institusional dari mahasiswa perempuan. Sampel dari 372 sarjana (usia 18-26) di Universitas Katolik menyelesaikan survei Mapworks yang berisi pertanyaan spesifik lembaga dan item spiritualitas pada Musim Semi 2018. Korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan bivariat antara variabel. Analisis korelasi kanonik (CCA) dilakukan untuk menentukan apakah ada hubungan di antara variabel - variabel prediktor (spiritualitas, koneksi rekan, integrasi sosial) dan variabel kriteria (ketahanan akademik, efikasi diri akademik, integrasi akademik, komitmen kelembagaan).

Perbandingan Perilaku Dokter dari Aspek Spiritual, Religi dan Kesehatan di 3 Negara

Tantangan besar bagi dokter ialah dapat menghubungkan aspek spiritual dan religi ke aspek kesehatan. Beberapa daerah dengan budaya yang berbeda memungkinkan memiliki isu spiritual dan religi yang berbeda pula. Tantangan ini sangat menarik jika dihubungkan dengan praktik klinik kedokteran. Penelitian ini ingin menunjukkan perbandingan perspektif dokter terhadap pengaruh spiritual dan religi pada pelayanan kesehatan yang dilakukan yang kemudian dibandingkan antar negara yang berbeda yaitu Brazil, India, dan Indonesia.

Kesimpulan yang menarik adalah dokter dari negara yang berbeda memiliki beragam perilaku dalam menghadapi isu kesehatan yang berhubungan dengan spiritual dan religi. Etnis dan budaya menjadi pengaruh penting pada pendekatan spiritual yang dilakukan di praktik klinis. Kurikulum mengenai spiritual dan religi yang mengajarkan dokter untuk dapat membawa aspek spiritual pada praktek klinis harus dapat memperhatikan perbedaan budaya dan etnis yang dimiliki oleh setiap daerah.

Variabilitas Hasil OSCE dalam Mempengaruhi Standar Lulusan Fakultas Kedokteran

Sering ditemukannya kesulitan dalam membandingkan outcomes atau standar lulusan antar fakultas kedokteran mendorong peneliti untuk meneliti pengaruh bias pemeriksa (examiner) pada OSCE terstandar. Adanya keprihatinan pada tingginya variabilitas OSCE (konten, checklist dan keluaran, efek terkait penguji ) yang mempunyai dampak bermakna dalam luaran kandidat, mendorong peneliti untuk meneliti faktor - faktor yang menjadi faktor biasnya.

Pada kesempatan belajar bersama dengan pendampingan dosen (Critical Appraisal) oleh mahasiswa Program Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan FK - KMK UGM pada 6 Mei 2019 di Ruang Kuliah Gd. Radioputro Lt. 6 FK - KMK UGM, dilakukan diskusi pada salah satu jurnal yang diterbitkan oleh BMC Medical Education secara open source yang berjudul “Examiner Effect on the Objective Structured Clinical Exam- a Study at Five Medical Schools.. Metodologi yang digunakan adalah meneliti bias pemeriksa (examiner) pada OSCE bedah terstandar untuk pemeriksaan lutut dan bahu di 5 sekolah kedokteran yang berbeda dengan alat checklist oleh 1 orang reference examiner yang memberikan skor secara independen dan pemeriksa lokal. Hasilnya dianalisis untuk reliabilitas antar penilai dan korelasi dengan tingkat pengalaman klinis dan pengaruh bias gender.

Spiritual Care Sebagai Bagian dari Kebijakan Pelayanan Kesehatan

Selain dokter, perawat dan bidan merupakan bagian penting dari tenaga kesehatan yang diharapkan memiliki kompetensi dalam pemberian spiritual care kepada pasien. Kompetensi tersebut berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan dalam memberikan spiritual care. Sedangkan spiritualitas sendiri memiliki 3 dimensi, yaitu transedens, hubungan dengan diri sendiri/ orang lain/ alam/ kekuatan tertinggi dan makna kehidupan. Terdapat bukti bahwa pembelajaran spiritualitas dan spiritual care berpengaruh pada peningkatan pemahaman mengenai spiritualitas dan spiritual care itu sendiri, peningkatan keterampilan komunikasi, pelayanan yang berpusat pada pasien dan kepuasan pekerjaan.