Perbedaan Budaya Mempengaruhi Pembelajaran Clinical Reasoning Mahasiswa Kedokteran

Clinical reasoning (CR) merupakan keterampilan yang penting dan kompleks bagi mahasiswa kedokteran. Keterampilan ini mengarahkan mahasiswa hingga tahap mendiagnosis dan memberikan rencana terapi. Mayoritas fakultas kedokteran di wilayah Asia Pasifik telah mengadopsi kurikulum kedokteran berdasarkan pedagogi barat, sehingga budaya barat sangat berpengaruh dalam mengajarkan keterampilan ini. Namun demikian, sampai saat ini ekspolorasi/penelitian yang terkait pengaruh budaya pada proses mengajar dan belajar di kedokteran masih sangat minimal.

Pada 16 September 2019 dilaksanakan diskusi bersama dengan pendampingan dosen (Critical Appraisal) oleh mahasiswa Program Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan FK - KMK UGM Angkatan 2018 dan 2019 yang bertempat di Ruang Kuliah Gd. Radioputro Lt. 6 FK - KMK UGM untuk membahas artikel pada jurnal BMC Medical Education yang berjudul “How Clinical Reasoning is Taught and Learned: Cultural Perspectives from the University of Melbourne and Universitas Indonesia.” Tulisan tersebut melakukan eksplorasi terhadap isu yang berkaitan dengan clinical reasoning.

Mendorong Motivasi Instrinsik Mahasiswa Kedokteran Melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler

LearnerCentered Student run Clinic (LC-SRC) adalah kegiatan ekstra kurikuler yang didesain untuk mengajarkan dan melatih keterampilan mahasiswa melakukan tugas sebagai dokter di dalam konteks kehidupan yang nyata (misalnya di klinik rawat jalan). Kegiatan ini  bertujuan untuk memberikan pengalaman klinik sedini mungkin dengan pasien yang sebenarnya (bukan pasien simulasi) dan memberi tanggung jawab akan pelayanan kepada pasien termasuk tindak lanjutnya, yang dilakukan dengan kerja sama tim (teamwork) serta mendapatkan supervisi dari dokter senior/dosen. Di dalam studi terkini, teori yang mendasari LC - SRC adalah Teori Self Determination. Berdasarkan teori tersebut, keterlibatan mahasiswa sedari awal di klinik yang dikombinasikan dengan tanggung jawab yang tinggi membuat kegiatan LC - SRC sebagai kegiatan yang mendukung timbulnya motivasi intrinsik mahasiswa.

Keunggulan Metode Pembelajaran Aktif dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Mahasiswa Farmasi

Pembelajaran aktif sangat dibutuhkan bagi mahasiswa kedokteran maupun profesi kesehatan dalam penguasaan dan aplikasi dari pengetahuan serta ketrampilan yang telah dipelajari. Aktivitas pembelajaran yang digunakan untuk mendukung pembelajaran aktif, seperti flipped class room, problem based learning, simulasi, games, diskusi kelompok, studi kasus interaktif dan penggunaan pasien terstandar (standardized patient). Dalam pendidikan profesi kesehatan seperti farmasi, penggunaan pasien terstandar telah dilakukan sejak lama. Dalam implementasinya, penggunaan pasien terstandar dengan maksud untuk melatih penguasaan berbagai keterampilan menunjukkan hasil yang efektif sebagai metode pembelajaran dan memberikan lingkungan yang “aman” bagi mahasiswa karena tidak langsung berhubungan dengan pasien sesungguhnya. Tentu saja penggunaan metode ini di samping metode lainnya memiliki kelebihan sekaligus tantangan terkait waktu dan pendanaan yang akan diuraikan lebih detail dalam artikel jurnal yang berjudul “ Improving Pharmacy Student Communication Outcomes Using Standardized Patients”.

Menciptakan Komitmen Profesional Sebagai Upaya Peningkatan Etika Profesional Dokter dan Perawat

Misi keperawatan yaitu untuk menyediakan layanan perawatan kesehatan berkualitas tinggi dan menjaga serta meningkatkan kesehatan masyarakat (Joolaee, 2010). Etika profesional dianggap sebagai elemen penting dari semua profesi kesehatan, termasuk keperawatan. Hasil penelitian di bidang keperawatan menyebutkan bahwa perawat menghadapi berbagai masalah selama pekerjaan mereka (Silen, 2008). Komunikasi yang buruk antara dokter, perawat dan pasien merupakan bagian utama dari masalah etika yang paling banyak terjadi, yang dapat menyebabkan pelanggaran hak - hak pasien (Sadeghi, 2011). Dengan demikian, masalah etika harus dianggap serius sebagai persyaratan dasar. Di sisi lain, pendekatan yang paling komprehensif dan lengkap untuk mengamati standar etika adalah pendekatan kualitatif dimana peserta berbagi pengalaman mereka.

Prevalensi Depresi Pada Mahasiswa Pendidikan Kedokteran

Pendidikan kedokteran diketahui sebagai salah satu lingkungan yang sangat stressful untuk mahasiswa. Mahasiswa kedokteran terbukti mengalami depresi lebih tinggi dibandingkan dengan jurusan lain. Telah dilakukan sebuah evaluasi secara global, prevalensi depresi pada mahasiswa pendidikan kedokteran, termasuk faktor epidemiological, psychological, educational dan social untuk mengidentifikasi kelompok resiko tinggi yang mungkin memerlukan intervensi secara khusus. 

Prevalensi depresi pada mahasiswa pendidikan kedokteran telah terjadi pada satu dari tiga mahasiswa kedokteran secara global. Namun angka pengobatan masih relatif rendah. Penemuan terbaru menyarankan pada masing - masing medical school untuk melakukan early detection dan program prevensi selain itu juga perlu dilakukan intervensi pada mahasiswa kedokteran yang terbukti mengalami depresi sebelum wisuda.