Universitas Negeri Jual Gelar Sarjana Rp 200 Juta?

Category: Berita Nasional Written by Super User Hits: 18445
MANADO - Ini cukup memprihatinkan memang, disinyalir untuk memperoleh ijazah sarjana dengan mudah atau secara instan di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Mahasiswa hanya menyiapkan uang Rp 150-200 juta untuk disetor ke sejumlah pemimpin fakultas.

Praktik seperti ini ada kaitannya dengan pernyataan Wakil Kemenkes RI dr Gufron saat menghadiri Muktamar AIPKI di Manado pekan lalu, yang menyatakan ada sekitar 2.500 dokter yang tak lulus ujian kompetensi.

Dekan Fakultas Kedokteran Unsrat Manado, dr Sarah Warouw saat dikonfirmasi wartawan di Manado, Senin (30/9) tak membantah ada praktik jual beli ijazah di Unsrat.

"Saya sudah mendengar dan bertemu dengan mahasiswa yang membeli ijazah. Ia mengaku kepada saya, jika sempat dihubungi orang yang tidak ia kenal dan menawarkan untuk membantu mahasiswa itu. Mahasiswa itu memang dalam keadaan terdesak karena sudah lama kuliah, tetapi belum selesai juga. Orang yang mengaku utusan dekan itu menawarkan diri untuk bisa membantu dengan imbalan sekitar Rp 150-200 juta. Ada juga orang yang saya tahu sudah membayar ke orang yang mengaku utusan dekan tersebut. Jual beli ijazah ini terjadi sebelum adanya sistem portal akademik yang data dan nilai mahasiswanya dimasukkan secara online di portal Unsrat," katanya.

Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di fakultas kedokteran. Sudah menjadi rahasia umum, ada beberapa fakultas di Unsrat yang juga menjualbelikan ijazah. Jual beli ijazah di Unsrat memang sudah diketahui rektor.

“Setelah rektor tahu ada praktik seperti itu, kami langsung mengadakan rapat senat untuk membicarakannya. Kesimpulannya, ijazah yang dibeli tersebut tidak diakui secara legal karena kita tetap menggunakan prosedur yang harus mengikuti perkuliahan secara normal," tutur Warouw.

Rendahnya Kualitas

Rendahnya kualitas sarjana di fakultas kedokteran Unsrat menurut salah satu dokter spesialis kulit dan kelamin karena sistem rekrutan mahasiswa yang mengutamakan bayaran.

“Banyak calon mahasiswa kedokteran yang sebenarnya pintar, tetapi karena tak cukup membayar puluhan hingga ratusan juta, terpaksa mengurungkan niatnya masuk kedokteran," ujar dokter senior di Sulut itu.

Dia menambahkan, bahkan ada yang pernah kedapatan lulusan IPS bisa masuk kedokteran.

Hal yang sama diungkapkan, dr Iqbal Koordinator Aliansi Dokter Muda Indonesia (ADMI) yang datang ke Manado untuk menghadiri Muktamar AIPKI, membenarkan ada sistem rekrutan yang salah saat masuk kedokteran. Akibatnya, kata dokter muda ini, kualitas dokter kurang bagus. "Kasihan juga mereka yang tak lulus," katanya.

Rektor Unsrat, Prof Donald Rumokoy yang dikonfirmasi merasa terkejut dengan pengakuan Dekan Fakultas Kedokteran Unsrat, dr Sarah Warouw. Rumokoy menepis ada sarjana kedokteran yang lulus dengan cara menyogok pemimpin fakultas.

Rumokoy akan mengundang dr Sarah untuk mengklarifikasi lebih jauh kebenarannya. "Saya tidak pernah memahami apa maksud pernyataan dekan fakultas kedokteran, apa yang dimaksud dengan telah menjadi rahasia umum di tiap fakultas?" ujar pakar hukum tata negara itu dengan nada tanya.

Ia membantah kalau praktik calo sarjana bayar terjadi di sejumlah fakultas dan rektorat sempat mengadakan rapat senat.

Sumber : Sinar Harapan