International Collaboration, Promises and Challenges

Review Artikel

Screen+Shot+2017-04-19+at+5.22.29+AM.png

Saat ini kita menghadapi banyak sekali tantangan global di bidang-bidang seperti kemiskinan, lingkungan, pendidikan, sains, dan obat-obatan. Namun, upaya kita saat ini menghadapi tantangan di atas mendapatkan hambatan, dan diperlukan untuk mengatasi hambatan yang melekat untuk memperbaiki kesulitan tersebut. Di sini, kami menyoroti harapan dan tantangan dalam kolaborasi internasional dalam mencapai keberhasilan. Artikel ini mencantumkan sejumlah keberhasilan di bidang seperti pendidikan, kedokteran, sains, dan masalah lingkungan yang telah dibuat hingga saat ini, namun pada saat yang sama kami mencatat kekurangan dan hambatan dalam upaya ini. Oleh karena itu, gagasan kolaborasi internasional harus diperkuat dan didorong oleh pemerintah, organisasi nirlaba, dan yang lainnya untuk bergerak maju dengan menggunakan cara kreatif untuk bersama-sama mengatasi tantangan ini di seluruh dunia.

SELENGKAPNYAnext

 


Review Jurnal: Global health security: the wider lessons from the west African Ebola virus disease epidemic

Epidemis virus Ebola di Afrika barat tidak pernah diduga sebelumnya dalam segi skala dan dampaknya. Dari sini, timbul kecemasan yang mengakibatkan perhatian baru terhadap keamanan kesehatan global –meliputi definisi, arti, dan implikasinya terhadap program dan kebijakan. Dalam konteks manajemen kesehatan global, termasuk reformasi oleh WHO, mengambil pelajaran dari kejadian epidemis ini menjadi sangat penting.

Penelitian ini mengundang kelompok praktisi kesehatan global yang diakui untuk merefleksikan pelajaran yang dapat diambil dari outbreak ini, dan menawarkan langkah selanjutnya. Kontribusi mereka mendeskripsikan beberapa ancaman mayor kepada golongan individual maupun komunitas, maupun juga nilai dan rekomendasi yang harus dipertimbangkan untuk menangkal ancaman seperti ini di masa depan. Meskipun banyak perspektif yang ditawarkan, secara umum tujuan mereka adalah sebuah lingkungan untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia yang berkelanjutan dan resilient.

Selengkapnya>>


Review Jurnal; Doctor – patient communication in Southeast Asia: a different culture?

Penelitian di negara barat telah menunjukkan bahwa komunikasi terbuka dan efektif antara dokter-pasien dapat memfasilitasi pelayanan kesehatan yang optimal. Kesamaan pemahaman  dapat dicapai dokter pasien apabila kedua pihak terlibat dalam bertukar informasi secara aktif selama konsultasi.

Namun di negara-negara Asia Tenggara, terdapat kesenjangan antara gaya komunikasi yang diharapkan dan yang terjadi di lapangan, dimana komunikasi bersifat paternalistik atau cenderung satu arah, dengan peran dokter yang dominan (Claramita et al. 2011). Fenomena ini mencerminkan adanya “superioritas” pada pasien dalam konteks konsultasi, atau adanya celah “education gap” yang jauh antar dokter pasien. Faktor- faktor yang menggarisbawahi  kejadian ini sudah pernah diteliti: beban kerja dokter yang tinggi, ketidaksiapan pasien terhadap gaya komunikasi, dan kurangnya pendidikan komunikasi. Namun juga ada peran budaya yang melatarbelakangi kejadian ini.

Penelitian ini membahas akar masalah dari peran budaya terhadap interaksi dokter pasien dan menunjukkan solusi penyusunan model komunikasi yang dirancang khusus untuk diterapkan pada pendidikan kedokteran.

SELENGKAPNYAnext