Role Model dan Pilihan Karir Mahasiswa Kedokteran

Sarjana kedokteran bukan mejadi tujuan akhir dalam pendidikan kedokteran. Masih panjang jenjang karir yang bisa ditempuh oleh seorang mahasiswa kedokteranMelanjutkan profesi dokter melalui pendidikan dokter spesialis dan masih banyak lagi pilihan karir seorang mahasiswa kedokteran. Banyak hal yang akan mempengaruhi pemilihan ini dari awal. Sejak dini terpapar terhadap faktor tersebut akan banyak mempengaruhi penentuan karir selanjutnya. Penelitian ini bisa sedikit menggambarkan bagaimana faktor-faktor yang akan mempengaruhi pemilihan karir tersebut.

Role model seperti BJ Habibie atau Soekarno sangatlah besar pengaruhnya terhadap semangat seorang penerus bangsa dalam memberikan yang terbaik untuk bangsa indonesia. Demikian halnya terjadi pada mahasiswa kedokteran yang akan menempatkan Prof. Dr. M. Sardjito sebagai role model dalam menggapai cita-cita. Pada penelitian ini akan dibahas sebarapa kuat role model dalam meningkatkan ketertarikan mahasiswa terhadap pemilihan jenjang karir tersebut.

Hidden Curriculum untuk Memahami Profesionalisme Pendidik

Beberapa pendidik setuju bahwa penelitian mengenai perilaku mahasiswa lebih baik dilakukan agar ke depannya bisa digunakan sebagai dasar penentuan program pendidikan pada mahasiswa. Hubungan antara pendidik dan mahasiswa akan sangat penting dalam program pendidikan yang akan dilakukan. Interaksi ini bisa menjadikan mahasiswa semakin terpacu untuk belajar. Selain itu yang lebih penting adalah interaksi antara mahasiswa dan pasien. Interaksi ini juga penting untuk mebumbuhkan kepercayaan dari mahasiswa itu sendiri. Berikut akan ada beberapa model interaksi antara pendidik dan mahasiswa maupun mahasiswa dan pasien.

Tujuan Hidden Curriculum Dalam Membentuk Seorang Dokter

Setiap mahasiswa yang memulai pendidikan kedokteran akan berpikir bahwa pendidikan yang ada pada fakultas kedokteran hanya untuk membentuk kemampuan intellegence dari seorang dokter. Anggapan ini seharusnya kurang tepat karena banyak hal lain yang akan didapatkan. Jika melihat proses pendidikan dokter dan dokter spesialis ada beberapa hal yang diajarkan tidak didalam ruang kelas bahkan ruang ilmiah ataupun ruang keterampilan klinis. Bagi beberapa mahasiswa ini hal yang tidak penting bahkan mempertanyakan kenapa hal ini dilakukan. Namun beberapa mahasiswa lain memahami bahwa ini adalah proses pendidikan yang akan menempa mereka menjadi seorang dokter yang baik.

Salah satu hal yang ingin ditanamkan adalah profesionalitas dokter. Pengikisan profesionalitas dokter sudah banyak terjadi melalui beberapa kasus belakangan ini. Imbasnya adalah kepercayaan sosial terhadap dokter yang menurun. Padahal untuk dapat memberikan pengobatan yang baik adalah dengan keperayaan dari pasien itu sendiri, maka sangat diperlukan sekali kepercayaan bagi dokter. Secara teori aspek profesionalitas ini sudah diajarkan pastinya ketika menempuh pendidikan sarjana sebelum menempuh coasisten. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak mematuhi hal tersebut.